Latihan Rutin Pramuka Gudep KIDEWA : Adakan Survival Penggalang Belajar Olah Makanan Rebus dengan Tungku Kayu Tradisional



PURWOSONO – Kemandirian dan keterampilan survival terus diasah di Pangkalan MI Nurul Islam Purwosono. Pada latihan rutin Pramuka Penggalang yang digelar Sabtu, 8 Agustus 2026, para siswa kelas 4, 5, dan 6 diajak kembali ke alam lewat materi keterampilan mengolah bahan makanan tradisional secara alami.

Di bawah bimbingan Pembina Pramuka, Kak Abdul Holiq, kegiatan yang berlangsung di area terbuka lingkungan madrasah ini fokus pada pengenalan dan pengolahan bahan pangan rebusan menggunakan peralatan tradisional.


Belajar Mengolah Hasil Bumi Tradisional

Dalam latihan kali ini, para penggalang membawa berbagai jenis bahan makanan hasil bumi dari rumah, seperti umbi-umbian, kentang, dan jagung manis. Kak Abdul Holiq memandu para peserta untuk memahami bahan makanan lokal tersebut serta pentingnya variasi pangan alami bagi kesehatan.

Setiap regu diajarkan teknik persiapan bahan yang benar, mulai dari pencucian, pembersihan kulit luar, hingga takaran air dan estimasi waktu yang dibutuhkan agar bahan makanan matang sempurna saat direbus.


Praktik Membuat Tungku Batu dan Memasak dengan Kayu

Hal yang paling menarik dan menantang bagi para penggalang adalah proses memasaknya. Para siswa tidak menggunakan kompor gas modern, melainkan diajarkan cara membuat tungku darurat dari tatanan batu serta memanfaatkan kayu bakar sebagai sumber api.

Melalui praktik ini, para peserta dilatih untuk:

  • Membangun Tungku Batu: Menyusun batu alam dengan posisi presisi agar kuat menopang wadah masak dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

  • Teknik Membuang dan Mengontrol Api: Mengumpulkan ranting dan kayu kering, serta menjaga kestabilan nyala api agar bahan makanan matang merata.

  • Kerja Sama Regu: Membagi tugas antaranggota regu, mulai dari pencari kayu, penjaga api, hingga juru masak.


Menikmati Hasil Olahan Bersama

Setelah proses perebusan selesai, masing-masing regu menyajikan hasil olahan makanan mereka. Kegiatan diakhiri dengan tradisi makan bersama di atas daun pisang, menciptakan suasana keakraban dan rasa bangga atas hasil kerja keras sendiri.

Melalui pembelajaran ini, MI Nurul Islam Purwosono berharap para Pramuka Penggalang tidak hanya terampil dalam ketangkasan lapangan, tetapi juga memiliki jiwa mandiri, mampu bertahan di berbagai situasi, serta tetap mencintai dan melestarikan kearifan lokal.

Salam Pramuka!


Penulis :
Abdul Holiq

















Post a Comment

Lebih baru Lebih lama